Focus Group Discussion Smart City Penginderaan Jauh untuk Pemberantasan Isu Kemiskinan di Kota
Kemiskinan masih menjadi isu utama baik ditingkat lokal maupun global. Di Kota Makassar khususnya, jumlah angka kemiskinan bertambah secara signifikan akibat pandemi. Data menunjukkan bahwa terdapat 154.632 keluarga miskin akibat dari pandemi yang sebelumnya hanya berjumlah 82.326 rumah tangga. Salah satu bantuan pemerintah untuk keluarga miskin adalah dengan memberikan bantun sosial berupa sembako. Sayangnya, pembagian bantuan sosial untuk para keluarga miskin ini sering tidak tersalurkan dengan baik. Hal ini dikarenakan data yang tersedia tidak sesuai dengan realitas di lapangan.
Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menciptkan Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang merupakan salah satu upaya strategis untuk mempercepat penanganan permukiman kumuh di perkotaan. Selain itu, program Kotaku juga mendukung “Gerakan 100-0-100”, yaitu 100 persen akses air minum layak, 0 persen permukiman kumuh, dan 100 persen akses sanitasi layak. Program ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Daerah (Pemerintah Provinsi/Kota/Kabupaten), Pemerintah Pusat dan Pemangku Kepentingan lainnya.


Baca Juga : Samintang, Juara Video Favorit II Dalam The 1st National Student Leaders On Sustainability Meeting 2021
Penanggulangan kemiskinan tidak hanya menjadi tanggungan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ataupun Dinas Sosial saja. Tetapi hampir semua bidang harus ikut berkontribusi untuk menanggulangi isu ini. Apalagi program pemberantasan kemiskinan merupakan program yang sudah lama dicanangkan pada tangkat internasional melalui Millenium Development Goals (MDGs) yang kemudian dilanjutkan oleh Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Hal yang utama yang membedakan MDGs dan SDGs adalah partnership. Moto utama SDGs adalah No one Left Behind artinya, semua pihak harus terlibat untuk pencapaian 17 goals SDGs. Oleh karena itu, program pemberantasan kemiskinan ini pun melibatkan berbagai pihak.
Salah satu cara yang telah direncanakan adalah dengan pelibatan teknologi GIS untuk memetakan kawasan miskin. Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUI), Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Sistem Penyajian Data Penginderaan Jauh yang Cepat, Mudah, Aman, dan Populer (SPACeMAP) dan ekosistem inovasi di Bidang Penginderaan Jauh untuk Mendukung Kegiatan Pendistribusian Bantuan Sosial di Kota Makassar. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 24 November 2021 secara luring dengan mematuhi protocol kesehatan yang ketat. Adapun yang menjadi narasumber dalam kegiatan ini adalah Narasumber Bappeda Kota Makassar, Narasumber Dinas Sosial Kota Makassar, Dr. Eng. Ilham Alimuddin, S.T., M.Gis, selaku tim leader untuk SMART CITY dan perwakilan SDGs Center UNHAS, dan Fajar Yulianto, M.Si.
Diharapkan dengan adanya teknologi GIS ini, daearah kumuh dapat terpetakan dengan baik sehingga pendistribusian bantuan sosialpun dapat tersalurkan dengan baik.











Comments
Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me?
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you. https://accounts.binance.com/pl/register?ref=UM6SMJM3
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.