Makassar – Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar sosialisasi Sustainable Development Goals (SDGs) 2026 bagi sivitas akademika di Ruang Senat Unhas, Selasa (28/4). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus mendorong implementasi agenda pembangunan berkelanjutan di lingkungan kampus.
Koordinator Tim Ahli Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Arifin Rudiyanto, menegaskan pentingnya mengorkestrasi transformasi ekonomi dalam kerangka SDGs. Menurutnya, pendekatan tersebut diperlukan untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antara Indonesia bagian Barat dan Timur.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan redesain transformasi ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan melalui enam strategi utama yang merupakan turunan dari 17 tujuan SDGs. Strategi tersebut melibatkan berbagai aktor, baik pemerintah maupun non-pemerintah.
Strategi pertama berfokus pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing, mencakup tujuan pengentasan kemiskinan, penghapusan kelaparan, kesehatan, dan pendidikan (Goals 1, 2, 3, dan 4). Strategi kedua menitikberatkan pada peningkatan produktivitas sektor ekonomi yang berkaitan dengan (Goals 2, 8, dan 12). Strategi ketiga berfokus pada ekonomi hijau (Goals 6, 7, 14, 15) sedangkan strategi keempat berkutat pada trasnformasi digital (Goals 9, 17). Dua strategi berikutnya yaitu strategi kelima di aspek integrasi ekonomi domestic (Goals 9) dan strategi keenam menforkuskan pada upaya mengurangi kesenjangan antar wilayah (Goals 10, 11).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa paradigma pembangunan ke depan harus mempertimbangkan keterkaitan tiga aspek utama, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan, sebagaimana diamanatkan dalam SDGs. Tujuan akhir yang ingin dicapai meliputi penghapusan kemiskinan, penghapusan kelaparan, dan pengurangan ketimpangan (Goals 1, 2, dan 10).
Namun demikian, pelaksanaan SDGs tidak lepas dari tantangan. Dengan cakupan 17 tujuan, 169 target, dan 251 indikator global, implementasi SDGs harus memastikan prinsip inklusivitas dengan semangat no one left behind.
Sebagai upaya mendukung pembiayaan, pemerintah melalui Bappenas telah membentuk SDGs Financing Hub yang berfungsi mengoordinasikan, memfasilitasi, dan mensinergikan berbagai inovasi pembiayaan pembangunan berkelanjutan. Mengingat target SDGs berlangsung hingga 2030, diperlukan partisipasi aktif seluruh pihak, termasuk perguruan tinggi.
“Tanpa kolaborasi yang konstruktif antara pemerintah, filantropi, organisasi masyarakat, media, dan akademisi, SDGs akan menjadi misi yang mustahil,” tegas Arifin.
Dalam kesempatan yang sama, Manager Pilar Pembangunan Lingkungan Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Rachman Kurniawan, memaparkan capaian implementasi SDGs secara global dan nasional. “Secara global, hanya sekitar 18 persen target SDGs yang berada pada jalur yang tepat (on track),” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa di Indonesia, dari 244 indikator yang dilaporkan, sebanyak 153 indikator atau sekitar 62,7 persen telah menunjukkan capaian positif. “Capaian ini menunjukkan progres yang cukup baik, namun tetap memerlukan percepatan di berbagai sektor agar target 2030 dapat tercapai,” lanjut Rachman.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D,. Sp.BM(K). menegaskan bahwa Unhas terus memperkuat komitmennya dalam mengarusutamakan SDGs di berbagai lini tridarma perguruan tinggi. “Unhas terus berupaya mengintegrasikan prinsip-prinsip SDGs dalam kebijakan akademik, riset, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Unhas diharapkan dapat memperkuat peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung implementasi SDGs, khususnya melalui pengembangan pengetahuan, pembelajaran, serta diseminasi hasil riset kepada masyarakat luas.










