To Dashboard

Sustainable Development Goals (SDGs) Center Universitas Hasanuddin

Contacts
Location
Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 10, Tamalanrea Indah, Kec. Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan
Dosen FKM Unhas Perkuat Keterampilan Komunikasi Agen Perubahan di Asmat dan Nabire

Dosen FKM Unhas Perkuat Keterampilan Komunikasi Agen Perubahan di Asmat dan Nabire

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas), Muhammad Rachmat, menjadi fasilitator dalam dua pelatihan komunikasi antarpribadi bagi agen perubahan di Kabupaten Asmat dan Kabupaten Nabire, Papua. Pelatihan tersebut dilaksanakan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) melalui Program Akselerasi Penurunan Stunting Terintegrasi di Papua atau PASTI–Papua.

Kegiatan pertama bertajuk “Pelatihan Komunikasi Antarpribadi bagi Agen Perubahan di Kabupaten Asmat” dan berlangsung pada 9–11 Maret 2026. Pelatihan yang diikuti 23 peserta tersebut difasilitasi oleh Muhammad Rachmat dari FKM Unhas bersama Andri Rosita, Penyuluh Kesehatan di Puskesmas Kebumen III, Jawa Tengah.

Kegiatan berikutnya, “Pelatihan Komunikasi Antarpribadi bagi Agen Perubahan di Kabupaten Nabire,” dilaksanakan pada 20–22 Agustus 2026 dan diikuti 29 peserta. Pada kegiatan ini, Muhammad Rachmat memfasilitasi pelatihan bersama Yesi Maryam, pegiat Forum Komunikasi Antarpribadi (KAP).

Muhammad Rachmat, Andri Rosita, dan Yesi Maryam diutus sebagai pelatih Forum KAP RCCE+. Dalam kedua pelatihan tersebut, para fasilitator memberikan pembelajaran dan pendampingan langsung untuk memperkuat kemampuan peserta membangun komunikasi yang empatik, partisipatif, dan berorientasi pada perubahan perilaku.

Pelatihan bertujuan meningkatkan keterampilan komunikasi antarpribadi para agen perubahan atau Agent of Change (AoC) dalam melaksanakan edukasi dan pendampingan kepada keluarga serta masyarakat. Peserta dilatih untuk mengenali lawan bicara, mendengarkan secara aktif, memahami kebutuhan dan hambatan yang dihadapi masyarakat, serta membangun kesepakatan mengenai tindakan yang dapat dilakukan bersama.

Muhammad Rachmat menekankan bahwa komunikasi langsung memiliki peran penting dalam mendukung perubahan perilaku untuk mencegah stunting.

“Stunting tidak bisa dicegah hanya dengan brosur dan poster. Senjata paling kuat kita adalah percakapan. Percakapan dari hati ke hati di teras rumah, di posyandu, bahkan di gereja. Di situlah kepercayaan dibangun,” ujarnya saat memberikan pelatihan di Asmat.

Menurutnya, komunikasi antarpribadi tidak menempatkan AoC sebagai pihak yang hanya menyampaikan pesan atau memberikan ceramah. AoC perlu mengenali dan mendengarkan masyarakat terlebih dahulu, kemudian membicarakan alternatif tindakan yang dapat disepakati dan diterapkan sesuai dengan kondisi keluarga.

“Tugas kita bukan menggurui. Tugas kita adalah mendengar dulu, baru bicara. Kalau warga merasa didengar, mereka akan lebih terbuka untuk berubah. Itu inti dari KAP,” jelasnya.

Secara keseluruhan, peserta dari kedua lokasi berasal dari beragam unsur masyarakat, antara lain kader posyandu, guru, tenaga kesehatan, tokoh agama, tokoh pemuda, serta perwakilan pers dan media. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan komunikasi kesehatan melalui individu dan saluran yang dekat serta dipercaya masyarakat.

Sebagai penghubung antara informasi kesehatan dan kehidupan sehari-hari masyarakat, AoC memiliki peran penting dalam membantu keluarga memahami dan menerapkan pesan kesehatan. Karena itu, keterampilan komunikasi yang empatik diperlukan agar edukasi tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi berkembang menjadi dialog yang mempertimbangkan pengalaman, kebutuhan, serta hambatan yang dihadapi masyarakat.

Rangkaian pelatihan ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 2: Tanpa Kelaparan, khususnya Target 2.2 mengenai penghapusan segala bentuk malnutrisi, termasuk stunting pada anak balita. Kegiatan ini juga mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan kapasitas masyarakat dalam melakukan edukasi dan komunikasi kesehatan.

Pelaksanaan program oleh WVI dengan melibatkan fasilitator dari perguruan tinggi, layanan kesehatan, dan jejaring komunikasi antarpribadi, serta peserta dari berbagai unsur masyarakat, turut mencerminkan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu landasan penting dalam membangun kapasitas aktor lokal untuk mendukung pencegahan stunting secara berkelanjutan.

Melalui pelatihan ini, 23 peserta di Asmat dan 29 peserta di Nabire diharapkan semakin mampu membangun percakapan yang empatik, menyampaikan informasi kesehatan secara tepat, dan mendampingi keluarga dalam menerapkan perilaku yang mendukung kesehatan serta pertumbuhan optimal anak.