Kuliah Umum : “Peran Sains, Teknologi, dan Inovasi dalam Percepatan Target SDGs”.

Kerusakan lingkungan yang terjadi semakin mengkhawatirkan secara global.  Sejatinya upaya global untuk menanggulangi kerusakan lingkungan dimulai sejak Konferensi Dunia Pertama tentang Pembangunan dan Lingkungan yang diprakarsai oleh PBB pada 5 Juni 1972 di Stockholm, Swedia.  Sejak saat itu, hampir semua negara di dunia mendirikan Kementerian Lingkungan Hidup dan memiliki kebijakan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) untuk mengharmoniskan pembangunan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. Pada Juni 1992 PBB menyelenggarakan Konferensi Dunia Kedua tentang Pembangunan dan Lingkungan di Rio de Janeiro, Brazil atau dikenal dengan ’the Rio Earth Summit’.  Konferensi ini menghasilkan tiga kesepakatan global, yakni the UN Framework Convention on Climate Change, the Convention on Biodiversity, dan the UN Convention to Combat Disertification.

Pada September 2000 PBB mendeklarasikan the Millennium Development Goals (MDGs) untuk mengurangi kemiskinan dan kelaparan global sebesar 50 persen pada 2015. Karena banyak target dari ketiga Konvensi Lingkungan Global diatas tidak tercapai.  Maka, pada  Juni 2012 PBB kembali mengadakan Konferensi Dunia Ketiga tentang Pembangunan dan Lingkungan di Rio de Janeiro, atau dikenal dengan the Rio+20 Summit.  Konferensi ini menghasilkan dokumen kesepakatan berjudul ’The Future We Want’.  Sebagai kelanjutan dari MDGs, PBB pun berkomitmen untuk mewujudkan 17 tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals = SDGs) pada 2030.  

Pembangunan berkelanjutan adalah paradigma pembangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia saat ini, tanpa merusak kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya”(WCED, 1987). Namun, pengimpelementasian terkait pembangunan berkelanjutan merupakan hal yang sangat menantang dikarenakan kebijakan dan program penanggulangan kerusakan lingkungan hanya menyentuh fonomenanya, bukan akar masalah (root causes) nya. Akar masalah pembangunan dan lingkungan hidup adalah: (1) tekonolgi (aspek teknis), dan (2) moralitas, khususnya orang-orang atau bangsa-bangsa yang punya power (kekuasaan) itu mayoritas sangat hedonis, greedy, dan hegemonis. Berdasarkan fenomena ini sehingga diperlukannya mengetahui bagaimana mahasiswa dan civitas akademik mampu mengakselerasi target SDGs melalui pendekatan sains, teknologi dan inovasi dalam percepatan pencapaian target SDGs.

Karena alasan inilah Sekolah Pascasarjana UNHAS bekerjasama dengan SDGs Center UNHAS mengundang Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS. Beliau adalah Guru Besar Management Pengembangan Kelautan IPB dan juga pernah menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004. Adapun yang bertindak sebagai moderator dalam kuliah umu mini adalah Dr. Ir. M. Rijal Idrus, M.Sc yang merupakan coordinator Divisi Kemaritiman SDGs Center UNHAS. Acara ini dibuka oleh Prof. Jamaluddin Jompa selaku Dekan Sekolah Pascasarjana UNHAS sekaligus Pembina SDGs Center UNHAS.

Dalam pemaparannya, Prof Rokhmin  menjelaskan tentang pembangunan berkelanjutan di persimpangan jalan, dinamika dan pencapaian pembangunan di tingkat Global, status dan tantangan pembangunan Indonesia, Sejarah perkembangan paradigma pembangunan berkelanjutan, strategi penggunaan sains, teknologi, dan inovasi dalam percepatan pencapaian targert SDGs. Setelah pemaparan, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimana ada 6 pertanyaan dan peserta terlihat sangat antusias dan bersemangat dalam memberikan tanggapan dan pertanyaan untuk para narasumber.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top