Melihat Isu Lingkungan dari Perspektif Gender
Share
Author
SDGs UNHAS

SDGs UNHAS

Melihat Isu Lingkungan dari Perspektif Gender

Melihat Isu Lingkungan dari Perspektif Gender

Makassar – Dr. Novaty Eny Dungga menyampaikan gagasannya mengenai Peran dan Pertisipasi Masyarakat dalam Penyelesaian Isu gender di Bidang Lingkungan Hidup. Perempuan yang akrab disapa Nova ini berbicara dihadapan peserta pelatihan Pengarusutamaan Gender di Bidang Lingkungan Hidup, Selasa (21/6) di Grand Sayang Park Hotel. Pelatihan ini digagas oleh Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Selatan (DPLH Sulsel). Pesertanya sebanyak lima puluh orang yang berasal dari DPLH Sulsel, DPLH Kabupaten/ Kota, Perusahaan Mitra DPLH dan PKK Sulsel.

Nova selaku Ketua Divisi Gender Equality SDGs Center Unhas menyampaikan betapa pentingnya melibatkan seluruh elemen dalam menjaga lingkungan. “Beberapa kendala dan hambatan kadang dialami oleh perempuan karena adanya pembedaan gender. Untuk itu, sangat penting memandang relasi lingkungan hidup dan manusia menggunakan perspektif gender,” pungkasnya.

Kegiatan ini bertujuan agar para peserta mampu mengintegrasikan perspektif gender ke dalam kebijakan dan aturan di bidang lingkungan pada instansinya masing-masing. Selain itu, pelatihan tersebut diharapkan mendorong partisipasi masyarakat dalam penyelesaian isu gender di bidang lingkungan hidup.

Relasi gender dan lingkungan makin krusial karena kesetaraan gender merupakan salah satu target utama dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Selain itu, latar belakang pelatihan ini yaitu adanya konsep division of labour yang menempatkan perempuan dan laki-laki selaku pengguna, pengeksploitasi dan pengelola lingkungan. Keduanya didudukan dalam pembagian kerja yang sama dalam kaitannya dengan lingkungan.

Melihat Isu Lingkungan dari Perspektif Gender

Baca Juga : SDGs Unhas Membincangkan Peran Teknologi Di Masa Depan Dan Perawatan Bersalin Secara Global

Melihat Isu Lingkungan dari Perspektif Gender. Meskipun begitu, dalam realitanya masih banyak yang membedakan peran keduanya. Perbedaan jenis kelamin, konsep patriarki ataupun pemahaman budaya tertentu ditengarai menjadi penyebabnya. Pembedaan gender tersebut akhirnya menyebabkan perempuan pun laki-laki sering mengalami hambatan. Situasi ini kemudian berpengaruh pada rendahnya kualitas hidup mereka.

Di wilayah urban maupun rural, perempuan dan laki-laki berperan dalam menjaga lingkungan. Kendati begitu, perempuan kerap kali aksesnya lebih terbatas dan mendapakkan dampak yang lebih besar dibanding laki-laki. Padahal perempuan dan laki-laki sama pentingnya dalam menjaga lingkungan.

Ada beberapa isu gender di bidang lingkungan yang menjadi fokus DPLH Sulsel. Misalnya, pengendalian pencemaran dan kerusakan pesisir laut, pengolahan sampah dan pengelohan limbah berbahaya dan beracun. Ketiga sektor ini dinilai masih belum peka terhadap kesetaraan gender. Di dalam kegiatan bank sampah, mayoritas penggiatnya adalah perempuan sedangkan 15 persen lainnya yaitu laki-laki. Sedangkan, kontribusi perempuan dalam pengendalian pencemaran dan kerusakan di wilayah pesisir masih minim.

Mungkin anda juga suka

Scroll to Top